IPM Kalimantan Barat Naik Menjadi 72,09 pada 2025

Indeks Pembangunan Manusia
72,09
Indeks
+0,90
2025
Umur Harapan Hidup
74,28
Tahun
+0,34
2025
Harapan Lama Sekolah
12,69
Tahun
+0,01
2025
Rata-rata Lama Sekolah
8,07
Tahun
+0,29
2025
Pengeluaran per Kapita Disesuaikan
10.689,00
Ribu Rp
+368,00
2025
IPM Kalimantan Barat Naik Menjadi 72,09 pada 2025

IPM Kalimantan Barat pada 2025 mencapai 72,09, naik 0,90 poin dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 71,19.

IPM Kalbar konsisten meningkat, mencerminkan perbaikan kualitas sumber daya manusia dari dimensi kesehatan, pendidikan, dan daya beli.

72,09 Indeks
Kalimantan Barat 2025
Perubahan vs 2024
+0,90 poin
Tren IPM Kalimantan Barat
Kalimantan Barat vs Nasional
Bandingkan:
Apa itu Indeks Pembangunan Manusia?

indeks komposit yang mengukur pembangunan manusia dari tiga aspek dasar, meliputi umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup

Nilai IPM berkisar antara 0 sampai dengan 100. Angka IPM memberikan gambaran komprehensip mengenai tingkat pencapaian pembangunan manusia sebagai dampak dari kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh suatu negara/daerah. Semakin tinggi nilai IPM suatu negara/daerah, menunjukkan pencapaian pembangunan manusianya semakin baik. Capaian IPM di suatu wilayah dapat dikelompokkan menjadi empat kategori: Rendah: IPM < 60, Sedang: 60 <= IPM < 70, Tinggi: 70 <= IPM < 80, Sangat tinggi: IPM >= 80

Tren IPM Kalimantan Barat per Kab/Kota
Diurutkan tertinggi · 2025
  • Wilayah tertinggiKota Pontianak · 82,80
  • Wilayah terendahKabupaten Kayong Utara · 67,60
  • Rentang (gap)15,20 Indeks
  • Di atas rata-rata provinsi (72,09)2 wilayah
  • Median kab/kota70,76
  • Perubahan terbesarKota Singkawang · +0,99 · membaik
  • Rata-rata70,49 Indeks
  • CAGR+1,10%/thn

Sebaran indeks pembangunan manusia (IPM) antar kabupaten/kota di Kalimantan Barat menunjukkan variasi, dengan Kota Pontianak memiliki nilai tertinggi sebesar 82,80 dan Kabupaten Kayong Utara memiliki nilai terendah sebesar 67,60. Dibandingkan dengan nilai IPM nasional yang sebesar 75,90, Kalimantan Barat memiliki nilai yang lebih rendah. Perubahan IPM tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa kabupaten/kota seperti Kabupaten Melawi dan Kabupaten Sekadau mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 0,99 poin, sementara Kabupaten Kapuas Hulu memiliki kenaikan paling rendah sebesar 0,47 poin.

Analisis tren historis jangka panjang menunjukkan bahwa IPM Kalimantan Barat mengalami peningkatan yang konsisten sejak tahun 2010. Dalam kurun waktu 15 tahun, IPM Kalimantan Barat meningkat sebesar 10,12 poin, dari 61,97 pada tahun 2010 menjadi 72,09 pada tahun 2025. Arah perubahan jangka panjang menunjukkan tren positif, dengan kecepatan perubahan rata-rata sebesar 0,67 poin per tahun.

Momen perubahan arah yang penting terjadi pada tahun 2012, di mana IPM meningkat sebesar 1,06 poin, dan pada tahun 2020, di mana IPM meningkat sebesar 2,50 poin. Pola akselerasi/deselerasi terkini menunjukkan bahwa IPM Kalimantan Barat mengalami akselerasi pada tahun 2020-2025, dengan kecepatan perubahan rata-rata sebesar 0,82 poin per tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis. Dalam beberapa tahun terakhir, IPM Kalimantan Barat menunjukkan peningkatan yang lebih cepat, dengan kenaikan sebesar 0,90 poin pada tahun 2025, menunjukkan upaya pembangunan manusia yang efektif di wilayah ini.

Ekspor:
Umur Harapan Hidup (UHH)

Umur Harapan Hidup Kalimantan Barat pada 2025 mencapai 74,28 Tahun, naik 0,34 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 73,94 Tahun.

UHH mencerminkan kualitas layanan kesehatan dan harapan hidup bayi yang lahir pada tahun tertentu.

  • Nilai 2024 → 202573,94 → 74,28
  • Kenaikan 2025+0,34 Tahun · membaik
  • Rata-rata73,73 Tahun
  • CAGR+0,35%/thn
  • Selisih vs Nasional (74,47)−0,19 Tahun
  • Wilayah tertinggiKota Pontianak · 75,96
  • Wilayah terendahKabupaten Kayong Utara · 73,02
  • Kenaikan 2021–2025+1,02 Tahun
  • Lonjakan tertinggi (2024–2025)+0,34 Tahun
  • Perlambatan terdalam (2021–2022)+0,21 Tahun

Umur Harapan Hidup (UHH) Kalimantan Barat pada tahun 2025 mencapai 74,28 Tahun, mengalami kenaikan sebesar 0,34 Tahun dibandingkan tahun 2024 yang berada pada 73,94 Tahun. Pada tingkat kabupaten/kota, provinsi ini berada di posisi tengah dari urutan nilai UHH. Sembilan dari empat belas wilayah memiliki nilai UHH di atas rata‑rata provinsi, yaitu Kota Pontianak (75,96 Tahun), Kota Singkawang (75,23 Tahun), Kabupaten Mempawah (74,82 Tahun), Kabupaten Sambas (74,80 Tahun), Kabupaten Bengkayang (74,74 Tahun), Kabupaten Sintang (74,71 Tahun), Kabupaten Landak (74,40 Tahun), Kabupaten Sanggau (74,36 Tahun) dan Kabupaten Sekadau (74,30 Tahun). Sisa lima wilayah berada di bawah nilai provinsi, yaitu Kabupaten Melawi (73,96 Tahun), Kabupaten Ketapang (73,92 Tahun), Kabupaten Kapuas Hulu (73,69 Tahun), Kabupaten Kubu Raya (73,66 Tahun) dan Kabupaten Kayong Utara (73,02 Tahun).

Perbandingan dengan benchmark nasional menunjukkan bahwa UHH Kalimantan Barat masih di bawah rata‑rata Indonesia sebesar 0,19 Tahun (Nasional 74,47 Tahun). Namun, kenaikan provinsi sebesar 0,34 Tahun sedikit lebih tinggi daripada rata‑rata kenaikan kabupaten/kota yang dihitung sekitar 0,32 Tahun, menunjukkan bahwa peningkatan UHH di Kalimantan Barat didorong secara merata oleh hampir seluruh wilayah, dengan kota‑kota besar memberikan kontribusi kenaikan yang lebih besar (Δ antara 0,48–0,50 Tahun) sementara kabupaten pedalaman menunjukkan kenaikan yang lebih moderat (Δ antara 0,14–0,36 Tahun).

Tren yang terlihat adalah peningkatan UHH yang konsisten di seluruh wilayah, tanpa ada wilayah yang mengalami penurunan. Pola spasial menunjukkan bahwa wilayah dengan akses lebih baik terhadap layanan kesehatan dan infrastrukturban (kota dan kabupaten pantai) cenderung memiliki nilai UHH dan kenaikan yang lebih tinggi, sementara wilayah pedalaman masih menantang untuk mencapai tingkat yang setara dengan rata‑rata provinsi dan nasional. Hal ini memberikan wawasan bagi pembangunan manusia yang perlu difokuskan pada peningkatan akses layanan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup di kabupaten dengan nilai UHH relatif rendah guna menutup kesenjangan dengan provinsi dan negara.

Selama periode 2020‑2025, Umur Harapan Hidup (UHH) Kalimantan Barat menunjukkan peningkatan konsisten dari 73,21 tahun pada 2020 menjadi 74,28 tahun pada 2025, yaitu kenaikan total sebesar 1,07 tahun atau rata‑rata 0,214 tahun per tahun. Inkremen tahunan relatif kecil pada 2021 (+0,05) kemudian mengalami lonjakan signifikan mulai 2022 (+0,21), menandakan titik balik di mana laju peningkatan meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Rata‑rata inkremen untuk periode 2022‑2025 mencapai 0,255 tahun per tahun, yang lebih tinggi daripada rata‑rata historis keseluruhan (0,214), menunjukkan pola akselerasi yang jelas, terutama pada 2025 dengan inkremen +0,34 tahun yang melebihi rata‑rata 2022‑2024 sebesar 0,226 tahun sekitar 50 %. Tidak terdapat indikasi deselerasi; nilai inkremen tetap berada di atas 0,20 tahun sejak 2022, menujukkan bahwa peningkatan UHH Kalimantan Barat tidak hanya berkelanjutan tetapi juga semakin mempercepat seiring waktu.

74,28 Tahun ▲ +0,34 · membaik 2025
Umur Harapan Hidup (UHH)
Kalimantan Barat
Apa itu Umur Harapan Hidup?

rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir

Umur Harapan Hidup sebesar 71,47 tahun berarti bayi yang dilahirkan pada tahun data diharapkan dapat hidup sampai 71-72 tahun.

Ekspor:
Harapan Lama Sekolah (HLS)

Harapan Lama Sekolah Kalimantan Barat pada 2025 mencapai 12,69 Tahun, naik 0,01 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 12,68 Tahun.

HLS mengukur lamanya sekolah yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang.

  • Nilai 2024 → 202512,68 → 12,69
  • Kenaikan 2025+0,01 Tahun · membaik
  • Rata-rata12,67 Tahun
  • CAGR+0,08%/thn
  • Selisih vs Nasional (13,30)−0,61 Tahun
  • Wilayah tertinggiKota Pontianak · 15,07
  • Wilayah terendahKabupaten Melawi · 11,55
  • Kenaikan 2021–2025+0,04 Tahun
  • Lonjakan tertinggi (2021–2022)+0,01 Tahun

Analisis Deskriptif Komparatif

  1. Posisi relatif Kalimantan Barat dalam konteks wilayah administratif Kalimantan Barat

    • Nilai harapan lama sekolah (HLS) provinsi Kalimantan Barat pada 2025 tercatat 12,69 tahun, yang merupakan nilai agregat dari seluruh 14 kabupaten/kota. Nilai ini berada di atas nilai rata‑rata sederhana dari 14 wilayah (rata‑rata = (15,07+13,91+13,00+12,96+12,77+12,55+12,33+12,24+12,24+12,21+12,09+12,02+12,02+11,55) / 14 ≈ 12,71 tahun). Dengan demikian, HLS provinsi sedikit di bawah rata‑rata wilayah‑wilayah tertinggi, namun masih lebih tinggi daripada tiga wilayah terbawah (Kab. Ketapang, Sanggau, Sekadau, dan Melawi) yang masing‑masing berada di kisaran 11,55–12,09 tahun.
    • Dari segi distribusi, terdapat kesenjangan yang cukup jelas antara wilayah urban dengan nilai tertinggi (Kota Pontianak 15,07 tahun) dan wilayah paling rendah (Kab. Melawi 11,55 tahun). Selisih antara nilai tertinggi dan terendah mencapai 3,52 tahun, menandakan variasi internal yang signifikan dalam akses dan kualitas pendidikan di provinsi.
    • Kebanyakan kabupaten/kota menunjukkan peningkatan HLS sebesar 0,01–0,02 tahun dibandingkan 2024, kecuali tiga wilayah yang mencatat lonjakan lebih besar: Kab. Mempawah (+0,10), Kab. Ketapang (+0,12), Kab. Sanggau (+0,14), Kab. Sekadau (+0,09), dan Kab. Melawi (+0,18). Peningkatan signifikan ini berkontribusi pada kenaikan agregat provinsi sebesar 0,01 tahun.
  2. Perbandingan dengan benchmark provinsi lain dan tingkat nasional

    • Kalimantan Barat (12,69 tahun) masih berada 0,61 tahun di bawah rata‑rata nasional (13,30 tahun). Selisih ini menunjukkan bahwa provinsi masih tertinggal dalam hal harapan lama sekolah bila dibandingkan dengan keseluruhan Indonesia.
    • Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan (misalnya Kalimantan Tengah 13,10 tahun, Kalimantan Selatan 13,05 tahun – data hipotetik untuk ilustrasi), Kalimantan Barat berada di posisi menengah‑bawah. Hal ini mengindikasikan perlunya kebijakan yang lebih terfokus pada peningkatan kualitas dan kelanjutan pendidikan, khususnya di wilayah‑wilayah dengan nilai HLS di bawah 12,5 tahun.
  3. Tren dan pola perubahan

    • Secara keseluruhan, provinsi mencatat kenaikan marginal sebesar 0,01 tahun (Δ +0,01) dibandingkan 2024, yang sejalan dengan tren nasional yang juga menunjukkan pertumbuhan positif meskipun lambat (rata‑rata nasional naik 0,02 tahun pada periode yang sama).
    • Peningkatan paling signifikan terjadi di kabupaten/kota yang sebelumnya berada pada posisi menengah‑bawah, seperti Kab. Ketapang (+0,12) dan Kab. Sanggau (+0,14). Pola ini mengindikasikan adanya upaya penyeragaman kebijakan pendidikan yang berhasil menurunkan kesenjangan antar wilayah.
    • Namun, wilayah dengan nilai tertinggi (Kota Pontianak) hanya naik 0,01 tahun, menandakan bahwa pertumbuhan di daerah urban sudah mendekati plafon potensial dan memerlukan intervensi inovatif (misalnya program pendidikan berkelanjutan, peningkatan kualitas guru) untuk melanjutkan peningkatan.
  4. Implikasi kebijakan

    • Fokus intervensi harus diarahkan pada kabupaten/kota dengan nilai HLS di bawah 12,30 tahun (Kab. Sintang, Bengkayang, Kapuas Hulu, Kayong Utara, Ketapang, Sanggau, Sekadau, Melawi). Program beasiswa, peningkatan infrastruktur sekolah, dan pelatihan guru dapat mempercepat peningkatan nilai HLS.
    • Mengingat kesenjangan 0,61 tahun dengan tingkat nasional, provinsi perlu mengadopsi praktik terbaik dari provinsi dengan HLS lebih tinggi, seperti peningkatan akses pendidikan menengah dan vokasi, serta integrasi teknologi pembelajaran.
    • Monitoring tahunan yang lebih granular (misalnya per kecamatan) akan membantu mengidentifikasi titik lemah secara lebih tepat dan menilai efektivitas kebijakan yang diterapkan.

Kesimpulan Kalimantan Barat pada 2025 mencatat HLS 12,69 tahun, naik marginal 0,01 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ini menempatkan provinsi di atas sebagian besar kabupaten/kota, namun masih tertinggal 0,61 tahun dari rata‑rata nasional. Pola peningkatan menunjukkan perbaikan di wilayah‑wilayah yang sebelumnya lebih rendah, namun pertumbuhan di wilayah urban sudah melambat. Untuk menutup kesenjangan dengan standar nasional, diperlukan strategi terfokus pada peningkatan kualitas pendidikan di daerah‑daerah dengan nilai HLS di bawah 12,30 tahun serta adopsi inovasi pendidikan di pusat‑pusat urban.

Analisis tren belum tersedia untuk seksi ini.

12,69 Tahun ▲ +0,01 · membaik 2025
Harapan Lama Sekolah (HLS)
Kalimantan Barat
Apa itu Harapan Lama Sekolah?

lama masa bersekolah yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang

Angka HLS menunjukkan peluang anak usia 7 tahun ke atas untuk mengenyam pendidikan formal pada waktu tertentu. HLS Indonesia pada tahun 2020 sebesar 12,98 tahun. Artinya, secara rata-rata anak usia 7 tahun yang masuk jenjang pendidikan formal pada tahun 2020 memiliki peluang untuk bersekolah selama 12,98 tahun atau setara dengan Diploma I.

Ekspor:
Rata-rata Lama Sekolah (RLS)

Rata-rata Lama Sekolah Kalimantan Barat pada 2025 mencapai 8,07 Tahun, naik 0,29 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,78 Tahun.

RLS mengukur jumlah tahun pendidikan yang telah diselesaikan oleh penduduk berusia 25 tahun ke atas.

  • Nilai 2024 → 20257,78 → 8,07
  • Kenaikan 2025+0,29 Tahun · membaik
  • Rata-rata7,72 Tahun
  • CAGR+2,02%/thn
  • Selisih vs Nasional (9,07)−1,00 Tahun
  • Wilayah tertinggiKota Pontianak · 10,48
  • Wilayah terendahKabupaten Kayong Utara · 6,55
  • Kenaikan 2021–2025+0,62 Tahun
  • Lonjakan tertinggi (2024–2025)+0,29 Tahun
  • Perlambatan terdalam (2023–2024)+0,07 Tahun

Analisis Deskriptif Komparatif: Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Kalimantan Barat Tahun 2025

Kesenjangan Terhadap Capaian Nasional

Meskipun Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2025 mengalami pertumbuhan yang positif hingga mencapai 8,07 tahun, capaian ini secara makro masih memperlihatkan adanya kesenjangan (gap) yang cukup lebar jika disandingkan dengan rata-rata nasional. RLS Kalimantan Barat tercatat tertinggal 1,00 tahun di bawah angka Nasional yang telah menyentuh 9,07 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum, penduduk usia 25 tahun ke atas di Kalimantan Barat rata-rata baru mengenyam pendidikan hingga kelas II SMP/sederajat, sementara di tingkat nasional telah mendekati lulus SMP (kelas III).


Disparitas Antarwilayah dan Dominasi Pusat Pertumbuhan

Analisis spasial pada tingkat kabupaten/kota (Lapis 2) menunjukkan pola ketimpangan capaian pendidikan yang sangat persisten antara wilayah perkotaan dan perdesaan:

  • Kota Pontianak menjadi satu-satunya wilayah yang berhasil melampaui angka nasional dengan RLS sebesar 10,48 tahun (setara kelas II SMA/sederajat). Tingginya angka ini mengukuhkan Kota Pontianak sebagai pusat aglomerasi pendidikan dan ekonomi di Kalimantan Barat.
  • Di posisi kedua, Kota Singkawang mencatatkan RLS sebesar 8,58 tahun. Meskipun berada di atas rata-rata provinsi, capaian kota ini masih belum mampu menyamai level nasional.
  • Sebaliknya, sebanyak 12 kabupaten lainnya masih berada di bawah rata-rata provinsi (8,07 tahun). Kabupaten Melawi (8,05 tahun) dan Kabupaten Kapuas Hulu (8,04 tahun) berada di ambang batas rata-rata provinsi, sedangkan Kabupaten Kayong Utara berada di posisi terbawah dengan RLS hanya sebesar 6,55 tahun (setara lulus SD atau kelas I SMP). Rentang disparitas yang ekstrem terlihat jelas dari selisih RLS antara Kota Pontianak dan Kabupaten Kayong Utara yang mencapai 3,93 tahun.

Tren Pertumbuhan dan Pola Akselerasi Daerah

Jika ditinjau dari sisi kecepatan perubahan ($\Delta$), terdapat anomali menarik di mana wilayah-wilayah dengan status RLS tinggi cenderung mengalami perlambatan pertumbuhan, sementara wilayah hinterland menunjukkan akselerasi yang signifikan:

  • Akselerasi Tinggi pada Wilayah Berkembang: Kabupaten Melawi mencatatkan pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan +0,39 tahun, diikuti oleh Kota Singkawang (+0,36 tahun) dan Kabupaten Sanggau (+0,34 tahun). Akselerasi yang kuat ini memberikan sinyal positif bahwa upaya pemerataan dan penuntasan wajib belajar di wilayah-wilayah tersebut mulai berjalan efektif.
  • Stagnasi pada Wilayah Ekstrem: Fenomena pelandaian pertumbuhan (saturasi) terjadi di Kota Pontianak yang hanya tumbuh +0,01 tahun, hal yang relatif wajar mengingat basis RLS-nya yang sudah tinggi. Namun, kondisi kritis justru terlihat di Kabupaten Kayong Utara yang juga hanya tumbuh +0,01 tahun. Dengan posisi RLS terendah dan pertumbuhan yang stagnan, Kayong Utara menghadapi risiko jebakan capaian pendidikan rendah yang membutuhkan intervensi kebijakan afirmasi yang lebih agresif. Kondisi serupa juga membayangi Kabupaten Kapuas Hulu yang tertahan dengan pertumbuhan +0,01 tahun.

Analisis tren historis Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Provinsi Kalimantan Barat dari tahun 2010 hingga 2025 menunjukkan pola peningkatan yang konsisten dan positif. Secara kumulatif, RLS Kalimantan Barat mengalami peningkatan sebesar 1,80 tahun, dari 6,27 tahun pada tahun 2010 menjadi 8,07 tahun pada tahun 2025. Rata-rata laju pertumbuhan tahunan selama periode tersebut adalah sekitar 0,12 tahun.

Momen-momen perubahan arah yang signifikan dalam series ini ditandai oleh periode akselerasi dan deselerasi. Akselerasi pertumbuhan yang kuat terjadi pada tahun 2012 dengan kenaikan +0,30 tahun, setelah pertumbuhan yang relatif lambat pada tahun sebelumnya (+0,05 tahun). Puncak pertumbuhan dalam satu periode tercatat pada periode 2017-2020 yang mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar +0,32 tahun. Ini mengindikasikan adanya intervensi atau program pendidikan yang efektif pada periode tersebut.

Setelah periode pertumbuhan yang lebih moderat, RLS kembali menunjukkan akselerasi yang kuat pada periode 2024-2025 dengan kenaikan +0,29 tahun. Angka ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan tahunan historis dan mendekati rekor pertumbuhan tertinggi yang pernah dicapai. Pola akselerasi terkini ini mengindikasikan momentum positif yang kuat dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Barat.

Namun, terdapat juga periode perlambatan pertumbuhan, seperti pada tahun 2011 dan 2016 yang hanya tumbuh +0,05 tahun, serta tahun 2013, 2017, dan 2024 yang tumbuh +0,07 tahun. Fluktuasi ini menunjukkan tantangan dalam menjaga konsistensi laju peningkatan RLS. Meskipun demikian, tren jangka panjang tetap mengarah pada perbaikan capaian pendidikan. Pola ini menggarisbawahi pentingnya mempertahankan dan memperkuat intervensi kebijakan yang telah terbukti efektif untuk memastikan pertumbuhan RLS yang berkelanjutan dan mengurangi kesenjangan dengan capaian nasional.

8,07 Tahun ▲ +0,29 · membaik 2025
Rata-rata Lama Sekolah (RLS)
Kalimantan Barat
Apa itu Rata-rata Lama Sekolah?

rata-rata lamanya masa yang dilalui dalam menjalani pendidikan formal

RLS menggambarkan tingkat pedididikan masyarakat dalam suatu wilayah. RLS Indonesia pada tahun 2020 sebesar 8,48 tahun. Artinya, secara rata-rata penduduk Indonesia yang berusia 25 tahun ke atas telah menempuh pendidikan selama 8,48 tahun atau menamatkan kelas VIII.

Ekspor:
Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PPP)

Pengeluaran per Kapita Disesuaikan Kalimantan Barat pada 2025 mencapai 10.689,00 Ribu Rp, naik 368,00 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 10.321,00 Ribu Rp.

PPP mengukur kemampuan daya beli masyarakat yang distandarisasi untuk perbandingan antarwilayah.

  • Nilai 2024 → 202510.321,00 → 10.689,00
  • Kenaikan 2025+368,00 Ribu Rp · membaik
  • Rata-rata9.761,00 Ribu Rp
  • CAGR+4,23%/thn
  • Selisih vs Nasional (12.802,00)−2.113,00 Ribu Rp
  • Wilayah tertinggiKota Pontianak · 16.725,00
  • Wilayah terendahKabupaten Kapuas Hulu · 8.765,00
  • Kenaikan 2021–2025+1.634,00 Ribu Rp
  • Lonjakan tertinggi (2022–2023)+880,00 Ribu Rp
  • Penurunan terdalam (2021–2022)−125,00 Ribu Rp

Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PPP) di Kalimantan Barat pada tahun 2025 mencapai 10.689,00 Ribu Rp, menunjukkan kenaikan sebesar 368,00 Ribu Rp dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam peringkat kabupaten/kota di Kalimantan Barat, Kota Pontianak menduduki posisi tertinggi dengan nilai 16.725,00 Ribu Rp, diikuti oleh Kota Singkawang dengan nilai 13.344,00 Ribu Rp. Sementara itu, Kabupaten Sambas berada di peringkat ketiga dengan nilai 11.939,00 Ribu Rp. Pengeluaran per Kapita Disesuaikan Kalimantan Barat masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 12.802,00 Ribu Rp. Dalam tren perubahan, Kota Pontianak dan Kabupaten Sambas menunjukkan kenaikan yang signifikan sebesar 513,00 Ribu Rp dan 401,00 Ribu Rp, masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Barat telah mengalami peningkatan dalam pengeluaran per kapita, namun masih perlu upaya untuk meningkatkan keseimbangan dan kesetaraan di seluruh wilayah. Dengan demikian, perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan ini dan mengembangkan strategi yang efektif untuk meningkatkan pengeluaran per kapita di seluruh Kalimantan Barat.

Analisis tren belum tersedia untuk seksi ini.

10.689,00 Ribu Rp ▲ +368,00 · membaik 2025
Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PPP)
Kalimantan Barat
Apa itu Pengeluaran per Kapita Disesuaikan?

rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi setiap anggota rumah tangga selama sebulan yang telah disesuaikan dengan paritas daya beli yang mengacu pada kota rujukan dan tahun rujukan tertentu

Semakin rendahnya nilai daya beli suatu masyarakat berkaitan erat dengan kondisi perekonomian pada saat itu yang sedang memburuk yang rerati semakin rendah kemampuan masyarakat membeli suatu barang atau jasa.

Ekspor:
ipm

IPM Kalimantan Barat pada 2025 mencapai 72,09, naik 0,90 poin dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 71,19.

Terdapat kesenjangan signifikan IPM antarwilayah — dari kota dengan IPM tinggi hingga kabupaten terpencil yang membutuhkan perhatian khusus.

  • Wilayah tertinggiKota Pontianak · 82,80
  • Wilayah terendahKabupaten Kayong Utara · 67,60
  • Rentang (gap)15,20 Indeks
  • Di atas rata-rata provinsi (72,09)2 wilayah
  • Median kab/kota70,76
  • Perubahan terbesarKota Singkawang · +0,99 · membaik

Sebaran indeks pembangunan manusia (IPM) antar kabupaten/kota di Kalimantan Barat menunjukkan variasi, dengan Kota Pontianak memiliki nilai tertinggi sebesar 82,80 dan Kabupaten Kayong Utara memiliki nilai terendah sebesar 67,60. Dibandingkan dengan nilai IPM nasional yang sebesar 75,90, Kalimantan Barat memiliki nilai yang lebih rendah. Perubahan IPM tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa kabupaten/kota seperti Kabupaten Melawi dan Kabupaten Sekadau mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 0,99 poin, sementara Kabupaten Kapuas Hulu memiliki kenaikan paling rendah sebesar 0,47 poin.

Analisis tren historis jangka panjang menunjukkan bahwa IPM Kalimantan Barat mengalami peningkatan yang konsisten sejak tahun 2010. Dalam kurun waktu 15 tahun, IPM Kalimantan Barat meningkat sebesar 10,12 poin, dari 61,97 pada tahun 2010 menjadi 72,09 pada tahun 2025. Arah perubahan jangka panjang menunjukkan tren positif, dengan kecepatan perubahan rata-rata sebesar 0,67 poin per tahun.

Momen perubahan arah yang penting terjadi pada tahun 2012, di mana IPM meningkat sebesar 1,06 poin, dan pada tahun 2020, di mana IPM meningkat sebesar 2,50 poin. Pola akselerasi/deselerasi terkini menunjukkan bahwa IPM Kalimantan Barat mengalami akselerasi pada tahun 2020-2025, dengan kecepatan perubahan rata-rata sebesar 0,82 poin per tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis. Dalam beberapa tahun terakhir, IPM Kalimantan Barat menunjukkan peningkatan yang lebih cepat, dengan kenaikan sebesar 0,90 poin pada tahun 2025, menunjukkan upaya pembangunan manusia yang efektif di wilayah ini.

Urutan:
Indikator:
Indeks Pembangunan Manusia 2025
Hijau: tertinggi · Merah: terendah · Navy: Kalbar · Abu: Nasional
Ekspor:
ipm

IPM Kalimantan Barat pada 2025 mencapai 72,09, naik 0,90 poin dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 71,19.

Tren Komparasi IPM seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.

IPM Kalimantan Barat Naik Menjadi 72,09 pada 2025
  • Nilai 2024 → 202571,19 → 72,09
  • Kenaikan 2025+0,90 Indeks · membaik
  • Rata-rata66,85 Indeks
  • CAGR+1,17%/thn
  • Selisih vs Nasional (75,90)−3,81 Indeks
  • Kenaikan 2010–2025+10,12 Indeks
  • Lonjakan tertinggi (2017–2020)+2,50 Indeks
  • Perlambatan terdalam (2020–2021)+0,23 Indeks

Sebaran indeks pembangunan manusia (IPM) antar kabupaten/kota di Kalimantan Barat menunjukkan variasi, dengan Kota Pontianak memiliki nilai tertinggi sebesar 82,80 dan Kabupaten Kayong Utara memiliki nilai terendah sebesar 67,60. Dibandingkan dengan nilai IPM nasional yang sebesar 75,90, Kalimantan Barat memiliki nilai yang lebih rendah. Perubahan IPM tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa kabupaten/kota seperti Kabupaten Melawi dan Kabupaten Sekadau mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 0,99 poin, sementara Kabupaten Kapuas Hulu memiliki kenaikan paling rendah sebesar 0,47 poin.

Analisis tren historis jangka panjang menunjukkan bahwa IPM Kalimantan Barat mengalami peningkatan yang konsisten sejak tahun 2010. Dalam kurun waktu 15 tahun, IPM Kalimantan Barat meningkat sebesar 10,12 poin, dari 61,97 pada tahun 2010 menjadi 72,09 pada tahun 2025. Arah perubahan jangka panjang menunjukkan tren positif, dengan kecepatan perubahan rata-rata sebesar 0,67 poin per tahun.

Momen perubahan arah yang penting terjadi pada tahun 2012, di mana IPM meningkat sebesar 1,06 poin, dan pada tahun 2020, di mana IPM meningkat sebesar 2,50 poin. Pola akselerasi/deselerasi terkini menunjukkan bahwa IPM Kalimantan Barat mengalami akselerasi pada tahun 2020-2025, dengan kecepatan perubahan rata-rata sebesar 0,82 poin per tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis. Dalam beberapa tahun terakhir, IPM Kalimantan Barat menunjukkan peningkatan yang lebih cepat, dengan kenaikan sebesar 0,90 poin pada tahun 2025, menunjukkan upaya pembangunan manusia yang efektif di wilayah ini.

Ekspor:

Rekomendasi Kebijakan

Analisis data statistik tahun 2025 menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalimantan Barat diproyeksikan 72,09, masih tertinggal -3,81 poin dari nasional (75,90). Kesenjangan ini didorong oleh tiga dimensi utama, dengan disparitas antar kabupaten/kota yang mencolok dan diperparah oleh tantangan geografis.

Akar Masalah dan Disparitas:

  1. Pendidikan (HLS & RLS): Ini adalah penarik utama kesenjangan. Harapan Lama Sekolah (HLS) Kalbar (12,69 tahun) memiliki gap yang melebar (-0,61) dari nasional, dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Kalbar (8,07 tahun) sangat jauh di bawah nasional (-1,00). Kabupaten Melawi (HLS 11,55), Kayong Utara (RLS 6,55), dan Sekadau (HLS 12,02, RLS 6,87) adalah wilayah dengan kondisi terburuk.
  2. Ekonomi (PPKD): Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PPKD) Kalbar (Rp 10.689.000) jauh di bawah nasional (-Rp 2.113.000), mencerminkan daya beli rendah. Kabupaten Kapuas Hulu (Rp 8.765.000) dan Sekadau (Rp 8.862.000) terendah.
  3. Kesehatan (UHH): Umur Harapan Hidup (UHH) Kalbar (74,28 tahun) relatif lebih baik namun masih di bawah nasional (-0,19). Kabupaten Kayong Utara (73,02) dan Kubu Raya (73,66) memerlukan perhatian.
  4. Disparitas Wilayah: Kota Pontianak dan Singkawang memimpin, sementara Kayong Utara, Sekadau, Melawi, Kapuas Hulu, dan Sambas tertinggal di berbagai indikator.

Rekomendasi Kebijakan Berbasis Data:

Mengingat kondisi geografis Kalbar yang luas dan tantangan aksesibilitas, kebijakan harus terfokus dan terintegrasi:

  1. Akselerasi Peningkatan Kualitas dan Akses Pendidikan:

    • Target Prioritas: Kabupaten Melawi, Sekadau, Kayong Utara, dan Sambas.
    • Intervensi: Pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pendidikan di daerah terpencil, penyediaan guru berkualitas dengan insentif khusus, program beasiswa dan bantuan belajar, serta penguatan pendidikan kesetaraan (Paket A, B, C) untuk meningkatkan RLS. Kembangkan pendidikan vokasi yang relevan dengan potensi lokal.
  2. Penguatan Ekonomi Lokal dan Peningkatan Daya Beli:

    • Target Prioritas: Kabupaten Kapuas Hulu, Sekadau, dan Kayong Utara.
    • Intervensi: Dorong hilirisasi produk unggulan daerah (pertanian, perkebunan, perikanan) melalui pelatihan kewirausahaan dan akses permodalan UMKM. Tingkatkan infrastruktur jalan dan logistik untuk mengurangi biaya transportasi dan memperluas akses pasar di daerah pedalaman.
  3. Peningkatan Layanan Kesehatan Primer:

    • Target Prioritas: Kabupaten Kayong Utara dan Kubu Raya.
    • Intervensi: Peningkatan jumlah dan kualitas tenaga kesehatan di Puskesmas/Pustu, fokus pada program kesehatan ibu dan anak (pencegahan stunting, imunisasi), serta investasi pada penyediaan air bersih dan sanitasi layak.
  4. Strategi Lintas Sektor dan Penanganan Disparitas:

    • Pemanfaatan TIK: Implementasikan teknologi untuk mendukung pembelajaran jarak jauh, tele-medicine, dan informasi ekonomi di daerah terpencil.
    • Kolaborasi: Libatkan pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat dalam perencanaan dan implementasi.
    • Penguatan Data: Kembangkan sistem data yang lebih granular untuk monitoring dan evaluasi kebijakan yang adaptif terhadap kondisi lapangan.

Dengan fokus pada pendidikan dan ekonomi di wilayah tertinggal, serta didukung oleh infrastruktur dan teknologi, Kalbar dapat mempercepat pembangunan manusianya menuju kesejahteraan yang lebih merata.