Inflasi tahunan (YoY) di Kalimantan Barat dibandingkan level nasional.
Inflasi tahunan (year-on-year) Kalimantan Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,28%. Angka ini menunjukkan sedikit penurunan sebesar Δ -0,01 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya, mengindikasikan adanya sedikit pelonggaran tekanan harga secara agregat di tingkat provinsi.
Secara komparatif dengan tingkat nasional, inflasi Kalimantan Barat sebesar 3,28% berada sedikit di bawah rata-rata inflasi nasional yang mencapai 3,34%. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi di Kalimantan Barat pada periode ini relatif lebih terkendali dibandingkan kondisi agregat nasional.
Apabila dibandingkan dengan wilayah kabupaten/kota di Kalimantan Barat, inflasi provinsi sebesar 3,28% berada di tengah-tengah spektrum. Kabupaten Sintang mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,71%, diikuti oleh Kabupaten Ketapang dengan 3,70%. Kedua wilayah ini berada di atas rata-rata inflasi provinsi, mengindikasikan adanya tekanan harga yang lebih signifikan di kedua kabupaten tersebut.
Di sisi lain, Kota Pontianak dan Kota Singkawang menunjukkan inflasi yang lebih rendah dari rata-rata provinsi, masing-masing sebesar 3,04% dan 2,93%. Kota Singkawang menjadi wilayah dengan inflasi terendah di Kalimantan Barat pada Juni 2026. Menariknya, Kabupaten Kayong Utara mencatatkan inflasi yang persis sama dengan tingkat inflasi provinsi, yaitu 3,28%.
Pola ini menunjukkan adanya disparitas tekanan inflasi antarwilayah di Kalimantan Barat, dengan beberapa kabupaten mengalami tekanan harga yang lebih tinggi, sementara kota-kota besar cenderung lebih stabil atau bahkan lebih rendah dari rata-rata provinsi.
Analisis Tren Historis Jangka Panjang menunjukkan bahwa inflasi tahunan (year-on-year) Kalimantan Barat mengalami dinamika yang signifikan selama periode Januari 2024 hingga Juni 2026. Secara keseluruhan, rata-rata inflasi historis tercatat sebesar 2,03%.
Pada awal periode, inflasi cenderung menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam. Dimulai dari 2,75% pada Januari 2024, inflasi terus menurun dan mencapai titik terendah sebesar 0,04% pada Februari 2025. Penurunan ini menandai periode pelonggaran tekanan harga yang ekstrem, dengan beberapa momen deselerasi yang signifikan seperti pada Juli 2024 (turun 0,70 poin persentase) dan Januari 2025 (turun 1,56 poin persentase).
Setelah mencapai titik terendah, inflasi mulai menunjukkan pembalikan arah yang kuat. Sejak Februari 2025, inflasi secara bertahap naik kembali, dengan akselerasi yang paling menonjol terjadi pada Januari 2026, di mana inflasi naik sebesar Δ +1,48 poin persentase menjadi 3,33%. Puncak inflasi dalam periode ini tercatat pada Februari 2026, mencapai 3,90%, yang merupakan titik tertinggi dalam seluruh rangkaian data historis yang diamati.
Memasuki paruh pertama tahun 2026, pola inflasi menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi. Setelah mencapai puncaknya di Februari 2026, inflasi sempat mengalami deselerasi tajam pada Maret 2026 (turun 1,01 poin persentase) dan April 2026 (turun 0,39 poin persentase). Namun, pada Mei 2026, inflasi kembali naik signifikan sebesar Δ +0,79 poin persentase menjadi 3,29%.
Pada Juni 2026, inflasi Kalimantan Barat tercatat sebesar 3,28%. Angka ini sedikit turun sebesar Δ -0,01 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya. Posisi inflasi saat ini (3,28%) berada jauh di atas rata-rata historis (2,03%), mengindikasikan bahwa Kalimantan Barat sedang berada dalam fase tekanan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tren jangka panjangnya. Meskipun terjadi sedikit penurunan pada Juni 2026, kecepatan perubahan dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan lingkungan inflasi yang lebih dinamis dan perlu dicermati.
Inflasi bulanan (MtM) di Kalimantan Barat dibandingkan level nasional.
Pada Juni 2026, Kalimantan Barat mencatat inflasi bulanan sebesar 0,31%. Angka ini menunjukkan perubahan Δ -0,01 dibandingkan bulan sebelumnya, mengindikasikan adanya sedikit perlambatan laju inflasi secara bulanan di tingkat provinsi.
Apabila dibandingkan dengan tingkat nasional yang mencapai 0,44%, laju inflasi Kalimantan Barat (0,31%) berada di bawah rata-rata nasional. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi di Kalimantan Barat relatif lebih rendah dibandingkan kondisi inflasi secara agregat di Indonesia.
Secara internal, laju inflasi di Kalimantan Barat menunjukkan variasi antar wilayah. Kota Singkawang mencatat inflasi tertinggi di provinsi ini, yaitu sebesar 0,46%. Diikuti oleh Kota Pontianak dengan 0,37% dan Kabupaten Sintang dengan 0,36%. Ketiga wilayah ini memiliki laju inflasi yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi Kalimantan Barat (0,31%).
Sebaliknya, beberapa wilayah menunjukkan laju inflasi yang lebih rendah dari rata-rata provinsi. Kabupaten Kayong Utara mencatat inflasi sebesar 0,20%, dan Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan inflasi terendah, yaitu 0,15%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya disparitas dalam dinamika harga komoditas dan jasa di berbagai daerah di Kalimantan Barat pada Juni 2026.
Inflasi bulanan Kalimantan Barat dari Januari 2024 hingga Juni 2026 menunjukkan dinamika yang fluktuatif, dengan rata-rata historis sebesar 0,19%. Periode ini ditandai oleh momen-momen perubahan arah yang signifikan. Titik terendah inflasi tercatat pada Januari 2025, mencapai -1,17%, yang mengindikasikan deflasi substansial. Sebaliknya, puncak inflasi tertinggi terjadi pada Maret 2025, melonjak hingga 1,23%. Fluktuasi ekstrem ini, dari deflasi terdalam ke inflasi tertinggi dalam rentang waktu yang berdekatan di awal tahun 2025, menyoroti sensitivitas harga komoditas dan jasa di Kalimantan Barat terhadap faktor-faktor pendorong inflasi dan deflasi.
Inflasi awal tahun (YtD) di Kalimantan Barat dibandingkan level nasional.
Inflasi kumulatif tahun berjalan (year-to-date) Kalimantan Barat hingga Juni 2026 tercatat sebesar 2,24%. Angka ini naik 0,31 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan adanya peningkatan tekanan inflasi secara kumulatif di tingkat provinsi.
Secara komparatif di dalam wilayah Kalimantan Barat, inflasi YtD provinsi (2,24%) berada di antara rentang inflasi kabupaten/kota. Kabupaten Ketapang mencatat inflasi YtD tertinggi sebesar 2,44%, diikuti oleh Kabupaten Sintang dengan 2,31%. Kedua wilayah ini menunjukkan tingkat inflasi yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi. Kota Pontianak memiliki inflasi YtD yang sangat dekat dengan rata-rata provinsi, yaitu 2,23%. Sementara itu, Kota Singkawang (1,95%) dan Kabupaten Kayong Utara (1,80%) mencatatkan inflasi YtD terendah di antara wilayah yang diamati, berada di bawah rata-rata provinsi.
Apabila dibandingkan dengan tingkat nasional, inflasi YtD Kalimantan Barat (2,24%) masih lebih tinggi dari rata-rata nasional yang tercatat sebesar 1,79%. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi di Kalimantan Barat secara keseluruhan lebih signifikan dibandingkan dengan kondisi inflasi rata-rata di tingkat nasional. Pola ini menunjukkan adanya disparitas inflasi yang bervariasi di antara kabupaten/kota di Kalimantan Barat, dengan beberapa wilayah menjadi pendorong utama inflasi provinsi, dan secara agregat provinsi menunjukkan tren kenaikan inflasi YtD serta berada di atas rata-rata nasional.
Analisis Tren Historis Jangka Panjang menunjukkan bahwa inflasi kumulatif tahun berjalan Kalimantan Barat mengalami fluktuasi yang signifikan dalam periode September 2024 hingga Juni 2026. Secara keseluruhan, rata-rata historis inflasi pada periode ini adalah 1,00%.
Momen perubahan arah yang penting dalam series ini dapat diamati. Setelah periode kenaikan berturut-turut dari September 2024 (0,93%) hingga Desember 2024 (1,71%), inflasi mengalami penurunan tajam menjadi -1,17% pada Januari 2025, dengan perubahan sebesar Δ -2,88 poin persentase. Titik terendah inflasi tercatat pada Februari 2025 sebesar -1,21%. Setelah itu, terjadi pemulihan yang signifikan, di mana inflasi kembali positif pada Maret 2025 (0,01%) dengan kenaikan Δ +1,22 poin persentase, dan terus naik hingga April 2025 (0,96%).
Pada akhir tahun 2025, inflasi menunjukkan tren kenaikan yang relatif stabil, dari September 2025 (1,16%) hingga Desember 2025 (1,85%). Namun, awal tahun 2026 kembali ditandai dengan penurunan tajam pada Januari 2026 (0,27%), turun sebesar Δ -1,58 poin persentase dari bulan sebelumnya.
Pola akselerasi yang kuat terlihat pada periode Januari 2026 hingga April 2026. Inflasi naik secara signifikan dari 0,27% pada Januari 2026 menjadi 2,68% pada April 2026, yang merupakan titik tertinggi dalam series ini. Kenaikan pada April 2026 sebesar Δ +1,65 poin persentase adalah salah satu yang tercepat dalam periode pengamatan. Setelah mencapai puncaknya, inflasi mengalami deselerasi pada Mei 2026, turun sebesar Δ -0,75 poin persentase menjadi 1,93%. Namun, pada Juni 2026, inflasi kembali naik sebesar Δ +0,31 poin persentase, mencapai 2,24%.
Dibandingkan dengan rata-rata historis sebesar 1,00%, nilai inflasi pada Juni 2026 (2,24%) menunjukkan bahwa tekanan inflasi saat ini berada jauh di atas rata-rata jangka panjang. Pola akselerasi terkini, terutama pada awal tahun 2026 yang mencapai titik tertinggi, mengindikasikan adanya dinamika inflasi yang lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata kecepatan perubahan yang diamati sepanjang periode historis.
Perbandingan pergerakan tiga ukuran inflasi Kalimantan Barat dalam satu grafik — skala otomatis menyesuaikan bila rentang nilai jauh berbeda.
Pada tahun 2026, dinamika inflasi Kalimantan Barat menunjukkan keselarasan dengan tingkat nasional untuk ketiga indikator yang diamati. Inflasi Tahunan (YoY) tercatat sebesar 3,28%, mengalami penurunan 0,01 dibandingkan tahun 2025, dan posisinya sama dengan inflasi Indonesia. Inflasi Bulanan (MtM) berada pada 0,31%, juga turun 0,01 dari tahun sebelumnya, setara dengan capaian nasional. Sementara itu, Inflasi Year to Date (YtD) menunjukkan kenaikan sebesar 0,31, mencapai 2,24%, dan juga sejalan dengan angka Indonesia. Perubahan paling menonjol terlihat pada Inflasi YtD yang naik 0,31, menunjukkan dinamika peningkatan yang berbeda dibandingkan penurunan tipis pada inflasi YoY dan MtM.
Analisis tren historis inflasi di Kalimantan Barat menunjukkan dinamika yang fluktuatif pada periode 2024-2026, dengan pola pergerakan yang saling terkait antar indikator Inflasi Tahunan (YoY), Inflasi Bulanan (MtM), dan Inflasi Year to Date (YtD).
Inflasi Tahunan (YoY): Pada tahun 2024, inflasi YoY cenderung menurun dari 2,75% di Januari menjadi 1,47% di Agustus, sebelum sedikit berfluktuasi dan berakhir di 1,71% pada Desember. Memasuki tahun 2025, terjadi penurunan drastis hingga mencapai titik terendah di Februari 2025 sebesar 0,04%, kemudian secara bertahap naik kembali hingga 2,14% di Juli 2025, dan menutup tahun di 1,85% pada Desember 2025. Pada tahun acuan 2026, inflasi YoY menunjukkan kenaikan signifikan di awal tahun, dari 1,85% di Desember 2025 menjadi 3,33% di Januari 2026 (Δ +1,48), mencapai puncaknya di Februari 2026 sebesar 3,90% (Δ +0,57). Setelah itu, terjadi penurunan hingga 2,50% di April 2026, sebelum kembali naik menjadi 3,29% di Mei 2026 dan sedikit stabil di 3,28% pada Juni 2026.
Inflasi Bulanan (MtM): Inflasi MtM menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi. Pada tahun 2024, terdapat periode deflasi bulanan di Juni (-0,29%), Juli (-0,45%), dan Agustus (-0,25%). Pola serupa terjadi di tahun 2025, dengan deflasi signifikan di Januari (-1,17%), Mei (-0,45%), dan Agustus (-0,26%). Namun, pada tahun 2026, inflasi MtM cenderung positif di setiap bulan yang tercatat, dimulai dari 0,27% di Januari, naik menjadi 0,51% di Februari, dan mencapai 0,57% di April, sebelum sedikit menurun ke 0,31% di Juni 2026. Pergerakan MtM yang positif di 2026 ini menunjukkan adanya tekanan harga bulanan yang berkelanjutan.
Inflasi Year to Date (YtD): Inflasi YtD, sebagai akumulasi inflasi bulanan, menunjukkan pola yang mengikuti MtM. Pada Januari 2025 dan Januari 2026, YtD mengalami penurunan tajam (Januari 2025: -1,17%, Δ -2,88 dari Des 2024; Januari 2026: 0,27%, Δ -1,58 dari Des 2025), yang mencerminkan deflasi bulanan atau efek basis yang kuat. Setelah itu, YtD cenderung naik secara konsisten. Pada tahun 2026, YtD meningkat dari 0,27% di Januari menjadi 2,68% di April (Δ +1,65), kemudian sedikit turun menjadi 1,93% di Mei, dan kembali naik menjadi 2,24% di Juni 2026.
Hubungan Antar Indikator dan Momen Penting: Secara umum, pergerakan MtM seringkali menjadi pendorong utama perubahan pada YtD dan memberikan sinyal awal bagi tren YoY. Momen penting terjadi pada Januari 2025, di mana ketiga indikator menunjukkan penurunan drastis (YoY dari 1,71% ke 0,15%; MtM dari 0,46% ke -1,17%; YtD dari 1,71% ke -1,17%), menandakan adanya deflasi bulanan yang kuat. Sebaliknya, pada Januari 2026, meskipun MtM relatif stabil di 0,27% dan YtD menurun dari Desember 2025, inflasi YoY justru naik tajam menjadi 3,33%. Hal ini mengindikasikan adanya efek basis rendah dari Januari 2025 yang sangat rendah (0,15%). Kenaikan MtM yang konsisten dan positif di awal 2026 (Januari-Juni) berkontribusi pada level inflasi YoY dan YtD yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2025. Pergerakan YtD yang terus naik hingga April 2026 (2,68%) menunjukkan akumulasi tekanan inflasi yang signifikan dalam empat bulan pertama tahun tersebut, meskipun kemudian sedikit melambat di Mei.
Pergerakan inflasi tahunan, bulanan, dan sejak awal tahun tiap kelompok pengeluaran — pilih kelompok dan wilayah untuk melihat detail.
Analisis inflasi tahunan (YoY) per kelompok pengeluaran di Kalimantan Barat pada Juni 2026 menunjukkan dinamika yang bervariasi antar sektor. Secara keseluruhan, inflasi mencapai 5,81%. Kelompok pengeluaran 'Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya' menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan angka 5,81%, yang sekaligus mencerminkan tingkat inflasi umum. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga pada kelompok ini memiliki bobot yang signifikan dalam keranjang konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, kelompok 'Rekreasi, Olahraga, dan Budaya' mencatat inflasi terendah, hanya sebesar 0,47%, diikuti oleh 'Pakaian dan Alas Kaki' sebesar 0,67% dan 'Kesehatan' sebesar 0,69%. Angka-angka yang rendah ini menunjukkan stabilitas harga yang relatif baik pada kelompok-kelompok tersebut, yang mungkin bukan merupakan kebutuhan pokok sehari-hari atau memiliki elastisitas permintaan yang berbeda.
Perubahan bulanan (Δ vs Mei) juga menunjukkan pola yang menarik. Kelompok 'Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin RT' mengalami kenaikan terbesar sebesar +0,73, menunjukkan adanya tekanan harga yang cukup signifikan pada kebutuhan rumah tangga. Selain itu, 'Transportasi' juga menunjukkan kenaikan yang substansial sebesar +0,59. Kenaikan pada sektor transportasi ini patut dicermati karena dapat memiliki efek domino terhadap harga barang dan jasa lainnya, terutama yang terkait dengan distribusi logistik.
Sebaliknya, beberapa kelompok menunjukkan penurunan inflasi dibandingkan bulan sebelumnya. 'Makanan, Minuman, dan Tembakau' mengalami penurunan sebesar -0,28, meskipun masih berkontribusi 4,28% terhadap inflasi YoY. Penurunan ini, meskipun kecil, dapat memberikan sedikit kelegaan bagi rumah tangga mengingat kelompok ini merupakan komponen pengeluaran yang besar. Kelompok 'Pendidikan' juga turun sebesar -0,12.
Secara struktural, komposisi inflasi menunjukkan bahwa tekanan harga utama berasal dari kelompok jasa dan kebutuhan rumah tangga (Perawatan Pribadi, Perlengkapan RT, Transportasi), sementara kelompok makanan yang biasanya sangat volatil menunjukkan sedikit penurunan bulanan. Pola ini mengindikasikan adanya pergeseran faktor pendorong inflasi, di mana biaya operasional dan jasa tampaknya menjadi kontributor utama dibandingkan dengan komoditas pangan murni. Implikasinya, kebijakan pengendalian inflasi perlu mempertimbangkan faktor-faktor struktural pada kelompok jasa dan non-pangan yang menunjukkan kenaikan signifikan.
Analisis tren inflasi tahunan (YoY) per kelompok pengeluaran di Kalimantan Barat dari Agustus 2024 hingga Juni 2026 menunjukkan dinamika yang beragam dan pergeseran dominasi pendorong inflasi.
Dominasi Kelompok Pengeluaran: Sepanjang periode observasi, kelompok 'Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya' secara konsisten menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi. Kelompok ini menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, dari 3,00% pada Agustus 2024 menjadi puncaknya sebesar 8,28% pada Februari 2026, sebelum sedikit menurun menjadi 5,81% pada Juni 2026. Ini mengindikasikan tekanan harga yang berkelanjutan pada sektor jasa dan perawatan pribadi.
Selain itu, kelompok 'Pendidikan' juga menunjukkan kontribusi yang substansial, terutama pada periode tertentu. Inflasi 'Pendidikan' mencapai 3,18% pada September 2024 dan melonjak hingga 4,75% pada Juli 2025, menunjukkan adanya kenaikan harga yang signifikan, kemungkinan terkait dengan penyesuaian biaya pendidikan pada awal tahun ajaran.
Volatilitas dan Fluktuasi: Kelompok 'Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar RT' merupakan kelompok yang paling volatil. Nilainya berfluktuasi ekstrem, dari inflasi rendah (0,19% pada Agustus 2024) hingga deflasi yang dalam (-15,53% pada Februari 2025), kemudian melonjak drastis menjadi inflasi sangat tinggi, mencapai 19,12% pada Februari 2026. Fluktuasi ekstrem ini memerlukan kajian lebih lanjut untuk memahami faktor pendorongnya, seperti perubahan kebijakan tarif atau harga komoditas energi.
Kelompok 'Makanan, Minuman, dan Tembakau' juga menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Angka inflasinya berkisar dari 0,06% pada Mei 2025 hingga 4,56% pada Mei 2026. Meskipun sering menjadi kontributor utama, fluktuasinya menunjukkan sensitivitas terhadap faktor pasokan dan permintaan musiman.
Perubahan Ranking dan Komposisi: Pada awal periode (Agustus-Desember 2024), 'Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya', 'Makanan, Minuman, dan Tembakau', serta 'Pendidikan' seringkali berada di posisi teratas sebagai pendorong inflasi. Memasuki tahun 2025, 'Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar RT' sempat menunjukkan deflasi yang signifikan, mengubah komposisi pendorong inflasi.
Pada tahun 2026, terjadi pergeseran yang menarik. 'Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar RT' mendominasi inflasi secara temporer pada Januari-Maret 2026 dengan angka yang sangat tinggi. Menjelang Juni 2026, 'Transportasi' menunjukkan kenaikan yang konsisten dan signifikan, dari 0,04% pada Desember 2024 menjadi 5,11% pada Juni 2026, menempatkannya di antara kelompok dengan inflasi tertinggi. Sementara itu, kelompok seperti 'Rekreasi, Olahraga, dan Budaya' serta 'Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan' cenderung menunjukkan inflasi yang rendah, bahkan deflasi pada beberapa periode.
Pola Musiman: Pola musiman terlihat pada kelompok 'Pendidikan' yang cenderung mengalami kenaikan signifikan pada bulan-bulan tertentu, seperti September 2024 dan Juli 2025, yang bertepatan dengan periode pendaftaran atau awal tahun ajaran baru. Kelompok 'Transportasi' juga menunjukkan kecenderungan kenaikan menjelang akhir tahun (Desember 2025: 1,63%) dan pada periode tertentu di tahun 2026 (April-Juni 2026), yang mungkin terkait dengan peningkatan mobilitas masyarakat.
Secara keseluruhan, data historis menunjukkan bahwa inflasi di Kalimantan Barat didorong oleh kombinasi faktor struktural pada kelompok jasa dan perumahan, serta fluktuasi harga komoditas pangan dan transportasi. Pergeseran dominasi dari waktu ke waktu mengindikasikan perlunya pemantauan yang cermat terhadap berbagai sektor untuk kebijakan pengendalian inflasi yang efektif.
Kontribusi tiap kelompok pengeluaran terhadap inflasi bulanan (MtM) Kalimantan Barat — data hingga April 2026.
Analisis komposisi andil inflasi per kelompok pengeluaran di Kalimantan Barat pada tahun 2026 menunjukkan bahwa kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau merupakan penyumbang andil inflasi terbesar dengan nilai 0,35%. Sementara itu, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya tercatat sebagai kelompok dengan andil terkecil, yaitu -0,05%. Perubahan paling menonjol dibandingkan bulan Maret terlihat pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami Δ +0,22, serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang mengalami Δ -0,05. Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran juga menunjukkan Δ +0,05. Secara keseluruhan, pola dominasi andil inflasi didorong oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, diikuti oleh Transportasi dengan 0,12%, sementara sebagian besar kelompok pengeluaran lainnya memberikan andil yang relatif kecil atau bahkan bersifat deflasi.
Analisis tren historis andil inflasi per kelompok pengeluaran di Kalimantan Barat dari Januari 2024 hingga April 2026 menunjukkan dinamika yang kompleks. Inflasi umum (MtM) mengalami fluktuasi signifikan, dengan periode deflasi dan inflasi yang bergantian.
Pola Pergerakan Jangka Panjang dan Hubungan Antar Indikator: Secara umum, kelompok 'Makanan, Minuman, dan Tembakau' (MMT) merupakan kontributor dominan terhadap inflasi, seringkali bergerak searah dengan inflasi umum. Namun, kelompok 'Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga' (PALBBRT) menunjukkan volatilitas ekstrem dan memiliki kemampuan untuk secara drastis mengubah arah inflasi umum dalam periode tertentu. Kelompok 'Transportasi' juga menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi, dengan andil yang sering berganti antara positif dan negatif.
Momen Perubahan Arah Penting dan Trade-off:
Kelompok Dominan, Volatil, dan Perubahan Komposisi:
Komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan di kota-kota pemantau Kalimantan Barat — data hingga Januari 2026.
Andil inflasi month-to-month (MtM) berdasarkan wilayah dan periode yang dipilih
Pada Januari 2026, inflasi bulanan (MtM) Kalimantan Barat tercatat sebesar 0,27%, dengan inflasi tahunan (YoY) mencapai 3,33%. Komoditas pendorong utama inflasi MtM adalah DAGING AYAM RAS dengan andil +0,133% dan inflasi naik 7,09%, diikuti EMAS PERHIASAN dengan andil +0,084% dan inflasi naik 8,17%. Komoditas lain yang turut memberikan andil positif antara lain IKAN NILA dan JERUK, masing-masing sebesar +0,027%, serta SIGARET PUTIH MESIN (SPM) sebesar +0,013%. Di sisi lain, beberapa komoditas berperan sebagai penahan inflasi, yaitu KETIMUN dengan andil -0,026% dan mengalami deflasi 11,71%, SEMANGKA dengan andil -0,018% dan mengalami deflasi 11,88%, serta IKAN TONGKOL/ IKAN AMBU-AMBU dengan andil -0,016% dan mengalami deflasi 2,21%. BENSIN juga menahan inflasi dengan andil -0,012% dan mengalami deflasi 0,27%. Secara kelompok, Makanan Minuman dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi MtM terbesar dengan andil +0,160%, diikuti Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil +0,090%. Sementara itu, untuk inflasi YoY, kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga memberikan andil tertinggi sebesar +1,700%, diikuti Makanan Minuman dan Tembakau dengan andil +0,750% dan Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil +0,500%. Terdapat juga kelompok yang menahan inflasi YoY, yaitu Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga dengan andil -0,040% dan Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan dengan andil -0,020%. Data komposisi kelompok inflasi nasional tidak tersedia untuk perbandingan.
Analisis persistensi inflasi Kalimantan Barat menunjukkan bahwa EMAS PERHIASAN merupakan komoditas paling persisten menyumbang inflasi selama 12 bulan berjalan dengan frekuensi 9 kali dan rata-rata andil +0,048. Komoditas lain yang juga sering menyumbang inflasi adalah IKAN KEMBUNG/IKAN GEMBUNG/ IKAN BANYAR/IKAN GEMBOLO/ IKAN ASO-ASO (6 kali, rata-rata andil +0,013), BAWANG MERAH (6 kali, rata-rata andil -0,003), DAGING AYAM RAS (6 kali, rata-rata andil +0,000), TELUR AYAM RAS (5 kali, rata-rata andil +0,011), dan CABAI RAWIT (5 kali, rata-rata andil +0,000). Menjelang Januari 2026, pola musiman menunjukkan beberapa komoditas yang perlu diwaspadai karena cenderung menyumbang inflasi. CABAI RAWIT, yang juga persisten, memiliki pola musiman kuat pada bulan Januari dengan frekuensi 4 kali dan rata-rata andil Δ +0,061. DAGING AYAM RAS juga menunjukkan pola musiman yang signifikan pada Januari (4 kali, rata-rata andil Δ +0,039), demikian pula TELUR AYAM RAS (4 kali, rata-rata andil Δ +0,029) dan IKAN KEMBUNG/IKAN GEMBUNG/ IKAN BANYAR/IKAN GEMBOLO/ IKAN ASO-ASO (4 kali, rata-rata andil Δ +0,019). BAWANG MERAH, meskipun persisten dengan andil -0,003 selama 12 bulan, cenderung menyumbang inflasi pada bulan Januari dengan rata-rata andil Δ +0,021 (3 kali). Komoditas lain dengan pola musiman kuat di Januari meliputi MINYAK GORENG (4 kali, rata-rata andil Δ +0,038) dan CUMI-CUMI (4 kali, rata-rata andil Δ +0,035).
Kemunculan komoditas penyumbang inflasi dan deflasi secara bulanan sepanjang tahun — data hingga Januari 2026.
| Komoditas | Muncul | Rata-rata Andil |
|---|---|---|
| Memuat data... | ||
| Komoditas | Muncul | Rata-rata Andil |
|---|---|---|
| Memuat data... | ||
Komoditas diurutkan berdasarkan frekuensi kemunculan di bulan tersebut dari seluruh tahun yang tersedia di database.
Pada Januari 2026, inflasi bulanan (MtM) Kalimantan Barat tercatat sebesar 0,27%, dengan inflasi tahunan (YoY) mencapai 3,33%. Komposisi penyumbang inflasi bulanan didominasi oleh komoditas DAGING AYAM RAS yang harganya naik 7,09% dengan andil positif tertinggi sebesar +0,133%, diikuti oleh EMAS PERHIASAN yang harganya naik 8,17% dan menyumbang +0,084%. Komoditas lain seperti IKAN NILA yang harganya naik 3,64% dan JERUK yang harganya naik 10,03% juga memberikan andil positif masing-masing +0,027%. Sementara itu, komoditas penahan inflasi utama adalah KETIMUN yang harganya turun 11,71% dengan andil negatif -0,026% dan SEMANGKA yang harganya turun 11,88% dengan andil negatif -0,018%, diikuti oleh IKAN TONGKOL/ IKAN AMBU-AMBU yang harganya turun 2,21%, BENSIN yang harganya turun 0,27%, dan WORTEL yang harganya turun 5,94%. Berdasarkan kelompok pengeluaran, pada basis bulanan (MtM), kelompok Makanan Minuman dan Tembakau menjadi pendorong utama dengan andil +0,160%, diikuti oleh kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar +0,090%. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga serta Kesehatan masing-masing memberikan andil +0,010%, sementara kelompok lainnya tidak memberikan andil pada inflasi bulanan. Secara tahunan (YoY), pola penyumbang inflasi sedikit berbeda, di mana kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga menjadi pendorong utama dengan andil +1,700%. Kelompok Makanan Minuman dan Tembakau juga memberikan andil positif yang cukup besar sebesar +0,750%, serta Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar +0,500%. Beberapa kelompok seperti Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga serta Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan justru menahan laju inflasi tahunan dengan andil masing-masing -0,040% dan -0,020%. Perbandingan dengan pola nasional tidak dapat dilakukan karena data komposisi kelompok nasional tidak tersedia.
Analisis persistensi inflasi Kalimantan Barat menunjukkan bahwa EMAS PERHIASAN merupakan komoditas paling persisten, menyumbang inflasi sebanyak 9 kali dengan rata-rata andil +0,048 dalam 12 bulan terakhir. Komoditas lain yang juga sering menyumbang inflasi secara persisten antara lain IKAN KEMBUNG/IKAN GEMBUNG/IKAN BANYAR/IKAN GEMBOLO/IKAN ASO-ASO (6 kali, rata-rata andil +0,013), DAGING AYAM RAS (6 kali, rata-rata andil +0,000), BERAS (5 kali, rata-rata andil +0,023), dan TELUR AYAM RAS (5 kali, rata-rata andil +0,011). Menjelang Januari 2026, pola musiman historis menunjukkan beberapa komoditas memiliki kecenderungan andil inflasi yang signifikan. CABAI RAWIT, yang dalam 12 bulan terakhir memiliki rata-rata andil +0,000, secara musiman pada bulan Januari cenderung naik tajam dengan rata-rata andil +0,061 (4 kali). Demikian pula DAGING AYAM RAS dan TELUR AYAM RAS, yang meskipun persisten, menunjukkan andil yang jauh lebih tinggi pada bulan Januari, masing-masing +0,039 dan +0,029 (keduanya 4 kali). IKAN KEMBUNG/IKAN GEMBUNG/IKAN BANYAR/IKAN GEMBOLO/IKAN ASO-ASO juga menunjukkan penguatan andil inflasi musiman di bulan Januari menjadi +0,019 (4 kali) dibandingkan rata-rata 12 bulan. Komoditas lain yang perlu diwaspadai karena pola musiman Januari adalah MINYAK GORENG (+0,038, 4 kali), CUMI-CUMI (+0,035, 4 kali), dan BAWANG MERAH yang cenderung naik +0,021 (3 kali) di bulan Januari meskipun rata-rata andil 12 bulannya adalah -0,003.
Sebaran komoditas berdasarkan frekuensi kemunculan dan besaran andil inflasi secara historis — data hingga Januari 2026.
Pada Januari 2026, inflasi bulanan (MtM) Kalimantan Barat tercatat 0,27% dan inflasi tahunan (YoY) sebesar 3,33%. Komoditas pendorong utama inflasi MtM adalah Daging Ayam Ras dengan andil +0,133% dan Emas Perhiasan dengan andil +0,084%, diikuti oleh Ikan Nila dan Jeruk yang masing-masing berandil +0,027%. Sementara itu, komoditas penahan inflasi MtM terbesar adalah Ketimun dengan andil -0,026% dan Semangka dengan andil -0,018%. Berdasarkan kelompok pengeluaran, Makanan Minuman dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi MtM terbesar dengan andil +0,160%, diikuti oleh Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar +0,090%. Untuk inflasi YoY, kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga memiliki andil tertinggi sebesar +1,700%, diikuti oleh Makanan Minuman dan Tembakau sebesar +0,750%. Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga serta Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan menjadi penahan inflasi YoY dengan andil masing-masing -0,040% dan -0,020%. Data komposisi kelompok untuk tingkat nasional tidak tersedia sehingga perbandingan tidak dapat dilakukan.
Analisis tren persistensi inflasi Kalimantan Barat menunjukkan bahwa EMAS PERHIASAN merupakan komoditas yang paling persisten menyumbang inflasi selama 12 bulan terakhir dengan frekuensi 9 kali dan rata-rata andil naik 0,048 persen. Komoditas lain yang juga sering menyumbang adalah IKAN KEMBUNG/IKAN GEMBUNG/ IKAN BANYAR/IKAN GEMBOLO/ IKAN ASO-ASO (6 kali, rata-rata andil naik 0,013 persen), BAWANG MERAH (6 kali, rata-rata andil turun 0,003 persen), DAGING AYAM RAS (6 kali, rata-rata andil naik 0,000 persen), ANGKUTAN UDARA (6 kali, rata-rata andil naik 0,000 persen), BERAS (5 kali, rata-rata andil naik 0,023 persen), TELUR AYAM RAS (5 kali, rata-rata andil naik 0,011 persen), dan CABAI RAWIT (5 kali, rata-rata andil naik 0,000 persen). Sementara itu, pola musiman pada bulan Januari menunjukkan bahwa CABAI RAWIT memiliki andil rata-rata naik tertinggi sebesar 0,061 persen dengan frekuensi 4 kali, diikuti DAGING AYAM RAS dengan andil rata-rata naik 0,039 persen (4 kali), MINYAK GORENG dengan andil rata-rata naik 0,038 persen (4 kali), CUMI-CUMI dengan andil rata-rata naik 0,035 persen (4 kali), TELUR AYAM RAS dengan andil rata-rata naik 0,029 persen (4 kali), dan IKAN KEMBUNG/IKAN GEMBUNG/ IKAN BANYAR/IKAN GEMBOLO/ IKAN ASO-ASO dengan andil rata-rata naik 0,019 persen (4 kali). Komoditas seperti CABAI RAWIT, DAGING AYAM RAS, TELUR AYAM RAS, IKAN KEMBUNG/IKAN GEMBUNG/ IKAN BANYAR/IKAN GEMBOLO/ IKAN ASO-ASO, dan BAWANG MERAH menunjukkan persistensi dalam 12 bulan berjalan sekaligus memiliki pola musiman yang signifikan pada bulan Januari.
Inflasi di Kalimantan Barat pada tahun 2026 menunjukkan tekanan yang signifikan, dengan inflasi tahunan (YoY) mencapai 3,28% pada Juni 2026, naik dari 1,85% pada Desember 2025. Akar masalah inflasi ini bersifat struktural dan didominasi oleh beberapa kelompok pengeluaran utama:
Penguatan rantai pasok dan sistem distribusi adalah kunci untuk mengatasi inflasi struktural di Kalimantan Barat, mengingat pola inflasi MtM dan YoY selama 24 bulan terakhir menunjukkan volatilitas yang perlu diantisipasi.